Long Distance Love

Published May 5, 2012 by liafathir

This slideshow requires JavaScript.

i don’t know where to start, but i was inspired by my experiences have long-distance relationship with someone.maybe my parents right about long-distance relationship should have extra patience, extra trust to our partner.I believe the same impatience that makes two of us often fight , is often misunderstood, often jealous of one another.
This is to many times we fight and either already.actually I’m tired but I loved him and who knows what would happen if without him.but I think it’s best for both of us, in order to introspecting our own self.
I really miss him now, like its hard to forget him.
In our relationship not only need
love, affection, loyalty, trust, honesty but also need mutual understanding and mutual respect and understanding and appreciate the patience and extra prudent to partner.extra also needed in dealing with any problems that come up, I had to come back together to him.bcoz I do not know what I do now.for who have long-distance relationship, I hope this brings added benefits and hopefully lasting relationship to marriage.amin ………

CINTA JARAK JAUH

Rasanya bingung mau mulai dari mana,tapi ini terinspirasi dari pengalaman ku punya hubungan jarak jauh dengan seseorang.Mungkin benar kata orang tua dulu,hubungan jarak jauh harus punya extra sabar,extra percaya sama pasangan.Mungkin aku kurang sabar sehingga membuat kami berdua sering bertengkar,sering salah paham,sering cemburu satu sama lain.
ini yang kesekiankalinya kami bertengkar dan entah sudah berapakali.sebenarnya aku sudah bosan tapi aku sangat menyayangi nya dan entah apa jadinya bila tanpa dia.tapi ku pikir ini yang terbaik bagi kami berdua,agar bisa intropeksi diri kami masing-masing.
Aku sangat merindukannya sekarang,kayak nya susah untuk melupakan dia.
Dalam hubungan kami tidak hanya butuh
cinta,sayang,kesetian,kepercayaan,kejujuran tapi juga butuh saling memahami dan pengertian serta saling menghormati dan menghargai pasangan.extra sabar dan extra bijaksana juga diperlukan dalam menghadapi setiap masalah yang datang,aku harus kembali lagi sama dia.karena aku tidak tahu apa yang harus kulakukan sekarang.buat yang punya hubungan jarak jauh,semoga ini membawa manfaat dan semoga hubungan tambah langgeng ke pernikahan.amin…………

MIDBRAIN ( OTAK TENGAH )

Published May 4, 2012 by liafathir

Midbrain activation is a new hot topic now. When we were children we read about superheroes that can see through wall. We saw in movies that a kung-fu master can fight with his eyes blinfolded. Midbrain (mesencephalon) is one part of brain that has a controlling function. Midbrain is act like a brain manager to manage the function of right and left brain. When we were a baby, our midbrain functioned well.

After 5 years old, midbrain of most of us becomes less active. Midbrain looses its capability to manage the left and right brain. The manager becomes lazy now. What happened with the left and right brain? Because this brain is the bigger brain, they still functioned well, but without the manager. These two big brains compete each other. Depend of the circumstances and character, one of the brains became a winner, and the other became looser.

If the left brain is the winner, left brain is used to solve most of the problem. We call this child left brain dominant. Children with left brain dominant usually good at math, physic, or other science and engineering studies. These children is considered high IQ

If the right brain is the winner, right brain is used to solve most of the problem. We call this child right brain dominant. They are usually good at art, performance, with lots of friends around. These children is considered high EQ

After midbrain activation, the midbrain is activated, it will regain control. Problems will be solved by left and right brain together. The whole brain will gain better performance. Children will enjoy developing all their brain potential. Without midbrain activation we can train left brain and right brain together. Without the manager, the battle continues. Right brain will compete against left brain. If not competing they will work as 2 different entities. There are only a poor coordination between left and right brain.

Improved concentration is one of benefit children gain after midbrain activation. When the child did something, there is more brain cell (neurons) from both left brain and right brain that involved. This will surely improve the child’s concentration. Surprising enough, children with active midbrain can see with their eyes blindfolded. Blindfold Reading Method is a learning method to train the midbrain. This is a bonus for the child. Not much daily activity can be done with our eyes blindfolded. But this bonus is precious especially for them that loose their sight.

OTAK TENGAH
Aktivasi otak tengah adalah topik hangat sekarang ini. Ketika kita masih anak-anak kita membaca tentang pahlawan super yang dapat melihat melalui dinding. Kami melihat di film-film yang kung-fu master dapat melawan dengan mata tertutup. Otak tengah (mesencephalon) adalah salah satu bagian otak yang memiliki fungsi pengendali. Otak tengah adalah bertindak seperti seorang manajer otak untuk mengelola fungsi otak kanan dan kiri. Ketika kita masih bayi, otak tengah kita berfungsi dengan baik.

Setelah 5 tahun, otak tengah dari sebagian besar dari kita menjadi kurang aktif. Otak tengah kehilangan kemampuan untuk mengelola otak kiri dan kanan. Otak tengah menjadi malas sekarang. Apa yang terjadi dengan otak kiri dan kanan? Karena otak ini adalah otak lebih besar, mereka masih berfungsi dengan baik, tetapi tanpa manajer. Kedua otak besar bersaing satu sama lain. Tergantung dari keadaan dan karakter, salah satu otak menjadi pemenang, dan yang lainnya menjadi lebih longgar.

Jika otak kiri adalah pemenang, otak kiri digunakan untuk memecahkan sebagian dari masalah. Kami menyebutnya otak kiri anak dominan. Anak-anak dengan ilmu otak kiri yang dominan biasanya pandai matematika, fisika, atau lainnya dan studi rekayasa. Anak-anak ini dianggap IQ tinggi

Jika otak kanan adalah pemenangnya, otak kanan digunakan untuk memecahkan sebagian dari masalah. Kami menyebutnya otak kanan anak dominan. Mereka biasanya bagus dalam seni, kinerja, dengan banyak teman di sekitar. Anak-anak ini dianggap EQ tinggi

Setelah aktivasi otak tengah, otak tengah diaktifkan, ia akan mendapatkan kembali kontrol. Masalah akan diselesaikan oleh otak kiri dan kanan bersama-sama. Seluruh otak akan mendapatkan kinerja yang lebih baik. Anak-anak akan menikmati mengembangkan semua potensi otak mereka. Tanpa aktivasi otak tengah kita dapat melatih otak kiri dan otak kanan bersama-sama. Tanpa manajer, pertempuran terus berlanjut. Otak kanan akan bersaing dengan otak kiri. Jika tidak bersaing mereka akan bekerja sebagai 2 entitas yang berbeda. Hanya ada koordinasi yang buruk antara otak kiri dan kanan.

Peningkatan konsentrasi adalah salah satu keuntungan manfaat anak-anak setelah aktivasi otak tengah. Ketika anak melakukan sesuatu, ada lebih sel otak (neuron) dari kedua otak kiri dan otak kanan yang terlibat. Ini pasti akan meningkatkan konsentrasi anak. Cukup mengejutkan, anak-anak dengan otak tengah aktif dapat melihat dengan mata tertutup. Cara Membaca penutup mata adalah metode belajar untuk melatih otak tengah. Ini adalah bonus bagi anak, Tidak banyak kegiatan sehari-hari dapat dilakukan dengan mata tertutup. Tapi bonus ini sangat berharga terutama bagi mereka yang kehilangan penglihatan mereka.

cara melatih otak kanan ( the way to train the right brain )

Published May 3, 2012 by liafathir

Biasanya kebanyakan dari kita menggunakan otak kiri untuk melakukan aktivitas sehari-hari dan jarang menggunakan otak kanan.ini ada cara untuk melatih otak kanan anda (Ussually most of us use the left brain to performa Daily Activities and rarely use the right brain.there is the way to train To your right brain. )

- Otak kanan berfungsi dalam perkembangan EQ (Emotional Quotient), seperti hal persamaan, khayalan, kreativitas, bentuk atau ruang, emosi, musik dan warna. Daya ingat otak kanan bersifat panjang (long term memory).( Right brain function in the development of EQ (Emotional Quotient), as this equation, imagination, creativity, shape or space, emotion, music and color. Right brain is have long memory (long term memory)).

- Otak kiri berfungsi sebagai pengendali IQ (Intelligence Quotient) seperti hal perbedaan, angka, urutan, tulisan, bahasa, hitungan dan logika. Daya ingat otak kiri bersifat jangka pendek (short term memory). ( Left Brain is the Drive IQ ( Intellegence Quotient ),as the difference,writing language,numbers,sequences,calculation, and logic.This is a short memory (Short term memory)).

1.Eight game
Pura-puralah menulis angka delapan atau simbol ? di udara dengan tangan kiri dan kanan secara bersama-samTa. Permainan sederhana ini bertujuan untuk menyeimbangkan syaraf motorik kiri dan syaraf motorik kanan. ( Pretend to write a figure eight or a symbol? in the air with his left hand and right together. This simple game aims to balance the motor nerve motor nerve left and right. )

2.Thumb game
Angkat jempol tangan kiri dan kelingking tangan kanan, sambil menyorongkan kedua belah tangan ke arah kanan. Sebaliknya, angkat jempol tangan kanan dan kelingking tangan kiri, sambil menyorongkan kedua belah tangan ke arah kiri. ( Raise your left hand thumb and little finger right hand, he thrust both hands into the right direction. Instead, raise your right hand thumb and little finger left hand, he thrust both hands to the left ).

3.Pattern game
Gambarlah pola-pola tertentu di atas kertas kosong, dengan tangan kiri dan kanan secara bersama-sama, ke arah dalam, luar, atas, dan bawah. permainan unik ini dapat menggali potensi visual anda ( Draw certain patterns on blank paper, with left and right hand together, toward the inside, outside, up and down. This unique game you can explore the potential visual ).

4.Specific crawl
Gerakkan tangan kanan serentak dengan kaki kiri. Kemudian balaslah, gerakkan tangan kiri serentak dengan kaki kanan. Idealnya, siku tangan menyentuh lutut dan Iringi pula dengan lagu favorit.gerakan ini juga dapat membuat pikiran terbuka terhadap hal-hal yang baru.( Move your right hand in unison with the left foot. Then greet, move your left hand in unison with his right foot. Ideally, the elbows touch the knees and are accompanied by songs favorit.gerakan can also make an open mind to new things. )

5.Specific posturing
Berdiri di lantai dengan lutut kiri dan tangan kanan. Sementara itu, kaki kanan diluruskan ke belakang dan tangan kiri diluruskan ke depan. Posisi ini bertujuan untuk mengaktifkan syaraf-syaraf tertentu secara umum dan otak kanan secara khusus. ( Standing on the floor with your left knee and right hand. Meanwhile, back right leg straightened and aligned to the front left hand. This position aims to activate certain nerves in general and specifically the right brain )

6.Specific relaxing
Tip ini khusus anak-anak. Pertahankan posisi relaksasi setengah tengkurap. Biasakan pula posisi ini ketika anak tidur. Semakin dini, semakin baik. Biasakan pula posisi ini ketika anak sakit, sambil dipeluk oleh orang tua. Dengan demikian, otak anak berada dalam frekuensi alpha dan anak akan merasa damai karenanya.( This tips is a special children. Maintain a relaxing half-prone position. Get used to this position when the kids are asleep. The sooner, the better. Get used to this position when the kids are sick, as he is embraced by the parents. the child’s brain is in alpha frequency and the child will feel at peace about it. )

7. Rotated reading
Balikkan sebuah tulisan (atas bawah), lalu bacalah tulisan tersebut dari kanan ke kiri. ( Turn a paper (top down), then read the text from right to left )

8. Left-handed foreplay
Tip yang boleh juga disebut Kamasutra ini khusus untuk lelaki yang telah menikah. Cumbulah pasangan Anda dengan menggunakan tangan kiri. ( May tips the Kamasutra is also called specifically for men who are married. Touch your partner using the left hand ) for single,get marry First

9. Left-handed handling
Peganglah gagang pintu dan bukalah pintu dengan tangan kiri. Cobalah dan teruskanlah kebiasaan baru ini setiap hari.( Hold the handle and open the door with his left hand. Try and get on this new habit every day )

10. Left-handed brushing
Gosoklah gigi dengan tangan kiri pada pagi hari. Untuk sore atau malam hari, tetaplah menggosok gigi dengan tangan kanan.( Brush your teeth with your left hand in the morning. For an afternoon or evening, keep brushing your teeth with your right hand )

11. Left-handed writing
Tulislah nama panggilan Anda dengan tangan kiri di atas kertas kosong. (Write down the name of your calls with your left hand over a blank paper )

12. Left-handed signing
Buatlah tanda tangan Anda dengan tangan kiri di atas sehelai kertas kosong.( Make your signature with your left hand on a piece of blank paper. )

Semoga ini memberi manfaat bagi yang membaca.untuk para ibu-ibu hamil,biasakan untuk lebih banyak membaca Al Qur’an.ini bermanfaat untuk menstimulan otak janin di dalam rahim
This may benefit for the reader.for the pregnant women,get used to more reading Al Qur’an.Stimulated brain is benefecial to fetus in the womb

tips bagaimana cara menangani bayi setelah di imunisasi DPT

Published April 21, 2012 by liafathir

Kebanyakan ibu-ibu panik,khawatir dan cemas pada saat bayi mau dimunisasi DPT.Karena ibu merasa takut bila bayi nya rewel atau demam setelah di imunisasi.ini ada  sedikit tips buat ibu-ibu agar bisa menghandle anak pada saat rewel dan demam.

o/ sebelum di imuniasi pastikan bayi dalam keadaan sehat dan ibu bisa memberikan obat penurun panas   yg aman sebelum bayi di imuisasi 

o/ pastikan bayi anda belum pernah terkena kejang sebelum nya,karena bila bayi sudah pernah kejang kekebalan nya sudah ada.jadi tidak perlu di imunisasi DPT

o/ setelah bayi di imunisasi,,pastikan ibu mengompres paha bayi dengan air hangat atau dengan minyak telon agar paha bayi tidak bengkak.

o/ Jangan lupa meminumkan obat penurun panas 3xsehari,karena biasa nya demam muncul pada saat bayi tidur malam.

o/ beri pijatan halus pada bayi agar bayi merasa nyaman 

o/ bila bayi masih rewel,check panas badan bayi atau  paha bekas di suntik.biasanya bayi rewel karena demam atau bengkak pada paha bayi.ibu masih bisa mengompres paha bayi dengan air hangat sambil memijat badan bayi secara perlahan.

o/ tetap berikan ASI pada bayi dan jangan takut memandikan bayi.mandikan bayi dengan air hangat karena itu akan menetralisir panas badan bayi

o/ Jangan mengompres badan bayi dengan air es karena ini akan memicu terjadinya kejang pada bayi

Semoga ini bermanfaat khususnya untuk ibu-ibu yang mempunyai bayi.Jangan takut untuk mengimunisasi bayi karena ini untuk kesehatan bayi itu sendiri.

 

imunisasi bagi bayi dan ibu hamil ( immunization for baby and pregnant women )

Published April 19, 2012 by liafathir

Definition of Immunization
Immunization derived from immune, immune or resistant. So Immunization is an act to confer immunity by introducing the vaccine into the body manuasia. While resistance is a condition where the body has the ability to conduct disease prevention in order to deal with a particular germ attacks. Immune or resistant to a disease may not be immune to other diseases.
In medicine, immunity is an event body’s defense mechanisms against the invasion of foreign substances to the interaction between the body by foreign objects. The goal of immunization is to stimulate the immunological system of the body to form a specific antibody that can protect the body against Preventable Diseases With Immunizations
World Health Organization (2004), mentions immunization is an effort made in administering the vaccine in a person’s body so that it can lead to immunity against certain diseases
Immunization
In Indonesia, the immunization program began in the 19th century to eradicate smallpox in Java. Indonesia’s last case of smallpox was discovered in 1972 and in 1974 Indonesia was officially declared smallpox-free countries. 1977 to the year 1980 started his immunization was introduced BCG, DPT and TT respectively to give immunity to diseases of children tuberculosis, diphtheria, pertussis and tetanus neonatorum. 1981 and 1982 successively introduced polio and measles antigen starting at 55 pieces are known as sub-districts and the Development of Immunization (PPI).
In 1984, a national full immunization coverage reached only 4%. With the acceleration strategy, immunization coverage can be increased to 73% by the end of 1989. This strategy is mainly aimed at strengthening the infrastructure and program management capabilities. With the help of international donors (such as WHO, UNICEF, USAID) program seeks to distribute all required vaccines and cold chain equipment and personnel trained vaccinators and cold chain management. At the end of 1989, as much as 96% of all districts in the country provide basic immunization services on a regular basis
With the status of the program, the government is determined to achieve Universal Child Immunization (UCI) is an international commitment in the context of Child Survival at the end of 1990. With the implementation of social mobilization strategies and the development of Local Area Monitoring (PWS), UCI at the national level can be achieved by the end of 1990. Eventually more than 80% of infants in Indonesia received complete immunization before the first birthday.
2. The importance of immunization and disease can be prevented with immunization
Immunization is one of the effective and efficient in preventing the disease and preventive medicine is part of a priority. Until now there are seven infectious diseases in children that can cause death and disability, although some children may survive and become immune. The seven diseases included in the immunization program, tuberculosis, diphtheria, pertussis, tetanus, polio, measles and hepatitis-B.
– Tuberculosis
Tuberculosis (TB) is an infectious disease directly caused by TB bacteria (Mycobacterium tuberculosis). TB disease can strike all age groups and an estimated 8 million people worldwide have attacked the premises of TB deaths of 3 million people per year. In developing countries these deaths account for 25% of deaths that could have held the disease prevention. An estimated 95% of TB patients in developing countries. .
– Diphtheria
Diphtheria is an infectious disease caused by Corynebacterium diphtheriae stimulate the respiratory tract occurs mainly in infants. Diphtheria has a high case fatality. In the population was not vaccinated children aged 1-5 years at most attacked for immunity (antibodies) that arise from the mother only one year old.
– Pertussis
Pertussis or whooping cough is an acute infectious disease caused by Bordotella pertussis in the respiratory tract. This disease is a serious disease in infants and early childhood is not uncommon cause kamatian. As with any disease other acute respiratory infections, pertussis is very easy and fast transmission. This disease can be one cause of high morbidity, especially in densely populated areas.
– Tetanus
Tetanus is a disease caused by the bacterium Clostridium tetani bacteria. Incidence of tetanus is rare in a country that has grown but is still widely available in developing countries, especially with the still frequent occurrence in the newborn tetanus (tetanus neonatorum). The disease occurs because the bacteria Clostridium tetani enters the body of a baby is born through the umbilical cord are less well maintained. Such events are often found in labor performed by village shamans from cutting the umbilical cord using a knife or blade of bamboo that are not sterile. The umbilical cord may also be treated with various herbs, ashes, leaves and so on. Therefore, to prevent the incidence of neonatal tetanus is by immunization.

- Poliomyelitis
Polio is a disease caused by polio virus. Based on the results of AFP surveillance (Flaccide Acute Paralysis) and laboratory tests, the disease since 1995 was not found in Indonesia. But this AFP cases in the last couple of years back found in several regions in Indonesia.
– Measles
Measles (Measles) is a disease caused by measles virus, and include acute and highly contagious disease, affects nearly all children. The cause is a virus and transmitted through the respiratory tract that comes out when the patient is breathing, coughing and sneezing (droplet). The disease is generally well known by people, especially housewives. In some areas the disease is linked to the fate that must dialamai by all children, whereas in other areas associated with the growth of children.
– Hepatitis B
Hepatitis is an infectious disease caused by hepatitis B. This disease is still a health problem in Indonesia because of its prevalence is quite high. Priority is the prevention of disease through immunization hepatitis in infants and children. This is so that they are protected from hepatitis B infection as early as possible in his life. Thus the integration of hepatitis B immunization into the primary immunization of infants and children is a very necessary step.

3. Implementation of immunization goals
The purpose of immunization is to prevent the occurrence of infectious diseases that can strike children. This can be prevented by administering imuniasi as early as possible to infants and children.
According to the Ministry of Health (2001), the purpose of immunization is to prevent illness and death of infants and children caused by the frequent outbreaks. The Indonesian government strongly encourages the implementation of immunization programs as a way to reduce morbidity, mortality in infants, toddlers / pre-school children.
To achieve the monitoring program needs to be done by all the officers both program managers, supervisors and immunization vaccination. The purpose of monitoring is to determine the extent to which the success of the work, knowing that there permasahan. This needs to be done to improve the program.
Things that need to be monitoring (monitored) are as follows:
Lightweight monitoring is to monitor the following matters as whether the monitoring in accordance with a predetermined schedule, whether ckup vaccine is available, check the normal refrigerator, the results of immunization compared to a predetermined target, the equipment is adequate for safe injecting and sterl, whether between 6 diseases that can be found discegah by immunization of the week.
How to monitor immunization coverage can be done through the scope from month to month as compared to the target line, can be described in each village. To find out the success of the program can look like, when the line visible achievements in the first year between 75-100% of the target, meaning the program was very successful. When the line of achievement in one year was seen between 50-75% of the target, meaning prgram quite successful and if the line in 1-year attainment is below 50% of the target berabrti program has not succeeded. When a line visible achievements in the first year under 25% of the target means the program did not succeed. For district and provincial level, the assessment is directed at residents of each district and county. In addition, at both levels is necessary to consider also memonotoring evaluation of vaccine usage. (Notoatmodjo, 2003)
4. Giving Immunization Schedule
-. BCG vaccination
BCG vaccination is given to infants aged 0-12 months by intramuscular injection at a dose of 0.05 ml intrakutan. BCG vaccination is declared successful if tuberculin conversion occurs at the injection site. Presence or absence of tuberculin conversion depends on the potency of the vaccine and the appropriate dose and injecting the correct way. Injection of an overdose and that too will lead to an abscess in the place of injection. To maintain potency, BCG vaccine should be stored at a temperature of 20 degrees Celsius

- DPT Vaccination
Immunity against diphtheria, pertussis and tetanus vaccine is composed of diphtheria toxoid and tetanus toxoid combined with a purified pertussis bacterium that has been turned off bortella. Injection of 0.5 ml dose administered subcutaneously or intramuscularly in infants aged 2-12 months for 3 times at intervals of 4 weeks. Specific reactions that occur after the injection does not exist. Symptoms are usually mild fever and local injection site reactions. If there is an overreaction as the temperature is too high, seizures, decreased consciousness, prolonged crying more than 3 hours, DPT vaccine should be replaced with DT.
– Polio Vaccination
For immunity to polio drops given 2 oral polio vaccine containing polio viruis containing polio virus types 1, 2 and 3 of Sabin. Vaccine given by mouth in infants aged 2-12 months with a distance of 4 times 4 weeks delivery time.
– Measles Vaccination
The vaccine is administered contains a weakened measles virus and in the form of dry powder or freezeried that must be reconstituted with a solvent that has been available prior to use. Injections are given subcutaneously at a dose of 0.5 ml in children ages 9-12 months. In developing countries measles immunization is recommended given early in order to confer immunity as early as possible, prior to exposure to natural measles virus infection. Earlier immunization apparently hit by the innate immune anti substance derived from the mother (maternal antibodies), it can inhibit the formation of immune substances in the body of a child against measles, so that repeat immunization was given 4-6 months later. Then to Indonesia measles vaccine is given begin abak was 9 months.
5.Imunisasi TT in pregnant women
Tetanus toxoid immunization is the process to build up immunity for prevention against tetanus infection.
Tetanus vaccine is a tetanus toxin had been inactivated bacteria and then purified.
Pregnant women are the mothers that contain start trimester I s / d trismester III
o / .Manfaat TT immunization of pregnant women
a. Protect her newborn from neonatal tetanus. Tetanus neonatorum tetanus is a disease that occurs in neonates (infants younger than 1 month) caused by Clostridium tetani, the bacteria that release toxins (poisons) and attacks the central nervous system

b. Protect the mother against the possibility of tetanus when injured
The second benefit is the way to achieve one goal of the national immunization program against tetanus elimination of maternal and neonatal tetanus.
The number and doses of TT immunization for pregnant women
TT immunization for pregnant women administered two times with a dose of 0.5 cc injected intramuscularly / subcutaneously in. TT immunization of gestation
TT immunization should be given before the pregnancy of 8 months to get the full TT immunization. TT1 can be given from the known positive pregnant which is usually given on the first visit of pregnant women to health facilities
. Distance TT1 and TT2 immunization
Giving the distance (interval) TT1 with TT2 immunization is at least 4 weeks

6.Efect TT immunization
Usually only mild symptoms such as pain, redness and swelling at the injection site. Antigen TT is a very safe and also safe for pregnant women. There is no danger to the fetus when pregnant women get TT immunization
The side effects lasted 1-2 days, it will heal itself and does not require action / treatment

7. service place to get TT immunization
a. Health Centers
b. Health centers
c. Hospital
d. Maternity homes
e. Polindes
f. IHC
g. Nursing home
h. Physician practices, and
i. Midwifery practice
Places where the government’s immunization services provided for free.

IMUNISASI UNTUK BAYI DAN IBU HAMIL
<img src=”http://liafathir.files.wordpress.com/2012/04/images-3.jpg&#8221; alt=”” title=”images (3)” width=”261″ height=”193″ class=”alignnone size-full wp-image-134″ />

Pengertian Imunisasi
Imunisasi berasal dari kata imun, kebal atau resisten. Jadi Imunisasi adalah suatu tindakan untuk memberikan kekebalan dengan cara memasukkan vaksin ke dalam tubuh manuasia. Sedangkan kebal adalah suatu keadaan dimana tubuh mempunyai daya kemampuan mengadakan pencegahan penyakit dalam rangka menghadapi serangan kuman tertentu. Kebal atau resisten terhadap suatu penyakit belum tentu kebal terhadap penyakit lain.
Dalam ilmu kedokteran, imunitas adalah suatu peristiwa mekanisme pertahanan tubuh terhadap invasi benda asing hingga terjadi interaksi antara tubuh dengan benda asing tersebut. Adapun tujuan imunisasi adalah merangsang sistim imunologi tubuh untuk membentuk antibody spesifik sehingga dapat melindungi tubuh dari serangan Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi
Departemen Kesehatan RI (2004), menyebutkan imunisasi adalah suatu usaha yang dilakukan dalam pemberian vaksin pada tubuh seseorang sehingga dapat menimbulkan kekebalan terhadap penyakit tertentu
Program Imunisasi
Di Indonesia, program imunisasi telah dimulai sejak abad ke 19 untuk membasmi penyakit cacar di Pulau Jawa. Kasus cacar terakhir di Indonesia ditemukan pada tahun 1972 dan pada tahun 1974 Indonesia secara resmi dinyatakan Negara bebas cacar. Tahun 1977 sampai dengan tahun 1980 mulai diperkenal kan imunisasi BCG, DPT dan TT secara berturut-turut untuk memberikan kekebalan terhadap penyakit-penyakit TBC anak, difteri, pertusis dan tetanus neonatorum. Tahun 1981 dan 1982 berturut-turut mulai diperkenalkan antigen polio dan campak yang dimulai di 55 buah kecamatan dan dikenal sebagai kecamatan Pengembangan Program Imunisasi (PPI).
Pada tahun 1984, cakupan imunisasi lengkap secara nasional baru mencapai 4%. Dengan strategi akselerasi, cakupan imunisasi dapat ditingkatkan menjadi 73% pada akhir tahun 1989. Strategi ini terutama ditujukan untuk memperkuat infrastruktur dan kemampuan manajemen program. Dengan bantuan donor internasional (antara lain WHO, UNICEF, USAID) program berupaya mendistribusikan seluruh kebutuhan vaksin dan peralatan rantai dinginnya serta melatih tenaga vaksinator dan pengelola rantai dingin . Pada akhir tahun 1989, sebanyak 96% dari semua kecamatan di tanah air memberikan pelayanan imunisasi dasar secara teratur
Dengan status program demikian, pemerintah bertekad untuk mencapai Universal Child Immunization (UCI) yaitu komitmen internasional dalam rangka Child Survival pada akhir tahun 1990. Dengan penerapan strategi mobilisasi social dan pengembangan Pemantauan Wilayah Setempat (PWS), UCI ditingkat nasional dapat dicapai pada akhir tahun 1990. Akhirnya lebih dari 80% bayi di Indonesia mendapat imunisasi lengkap sebelum ulang tahunnya yang pertama.
2. Pentingnya Imunisasi dan Penyakit Yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi
Imunisasi merupakan salah satu cara yang efektif dan efisien dalam mencegah penyakit dan merupakan bagian kedokteran preventif yang mendapatkan prioritas. Sampai saat ini ada tujuh penyakit infeksi pada anak yang dapat menyebabkan kematian dan cacat, walaupun sebagian anak dapat bertahan dan menjadi kebal. Ketujuh penyakit tersebut dimasukkan pada program imunisasi yaitu penyakit tuberkulosis, difteri, pertusis, tetanus, polio, campak dan hepatitis-B.
– Tuberkulosis
Tuberkulosis (TBC) adalah suatu penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium tuberculosis). Penyakit TBC ini dapat menyerang semua golongan umur dan diperkirakan terdapat 8 juta penduduk dunia diserang TB denga kematian 3 juta orang per tahun. Di negara-negara berkembang kematian ini merupakan 25% dari kematian penyakit yang sebenarnya dapat diadakan pencegahan. Diperkirakan 95% penderita TBC berada di Negara berkembang. .
– Difteri
Difteri merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh Corynebacterium diphtheriae merangsang saluran pernafasan terutama terjadi pada balita. Penyakit difteri mempunyai kasus kefatalan yang tinggi. Pada penduduk yang belum divaksinasi ternyata anak yang berumur 1-5 tahun paling banyak diserang karena kekebalan (antibodi) yang diperolah dari ibunya hanya berumur satu tahun.
– Pertusis
Pertusis atau batuk rejan adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh Bordotella pertusis pada saluran pernafasan. Penyakit ini merupakan penyakit yang cukup serius pada bayi usia dini dan tidak jarang menimbulkan kamatian. Seperti halnya penyakit infeksi saluran pernafasan akut lainnya, pertusis sangat mudah dan cepat penularannya. Penyakit ini dapat merupakan salah satu penyebab tingginya angka kesakitan terutama di daerah yang padat penduduk.
– Tetanus
Penyakit tetanus merupakan penyakit yang disebabkan oleh kuman bakteri Clostridium tetani. Kejadian tetanus jarang dijumpai di negara yang telah berkembang tetapi masih banyak terdapat di negara yang sedang berkembang, terutama dengan masih seringnya kejadian tetanus pada bayi baru lahir (tetanus neonatorum). Penyakit terjadi karena kuman Clostridium tetani memasuki tubuh bayi lahir melalui tali pusat yang kurang terawat. Kejadian seperti ini sering kali ditemukan pada persalinan yang dilakukan oleh dukun kampong akibat memotong tali pusat memakai pisau atau sebilah bambu yang tidak steril. Tali pusat mungkin pula dirawat dengan berbagai ramuan, abu, daun-daunan dan sebagainya. Oleh karena itu, untuk mencegah kejadian tetanus neonatorum ini adalah dengan pemberian imunisasi.

- Poliomielitis
Polio adalah penyakit yang disebabkan oleh virus polio. Berdasarkan hasil surveilans AFP (Acute Flaccide Paralysis) dan pemeriksaan laboratorium, penyakit ini sejak tahun 1995 tidak ditemukan di Indonesia. Namun kasus AFP ini dalam beberapa tahun terkahir kembali ditemukan di beberapa daerah di Indonesia.
– Campak
Penyakit campak (Measles) merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus campak, dan termasuk penyakit akut dan sangat menular, menyerang hampir semua anak kecil. Penyebabnya virus dan menular melalui saluran pernafasan yang keluar saat penderita bernafas, batuk dan bersin (droplet). Penyakit ini pada umumnya sangat dikenal oleh masyarakat terutama para ibu rumah tangga. Dibeberapa daerah penyakit ini dikaitkan dengan nasib yang harus dialamai oleh semua anak, sedangkan di daerah lain dikaitkan dengan pertumbuhan anak.
– Hepatitis B
Penyakit hepatitis merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus hepatitis B. Penyakit ini masih merupakan satu masalah kesehatan di Indonesia karena prevalensinya cukup tinggi. Prioritas pencegahan terhadap penyakit ini yaitu melalui pemberian imunisasi hepatitis pada bayi dan anak-anak. Hal ini dimaksudkan agar mereka terlindungi dari penularan hepatitis B sedini mungkin dalam hidupnya. Dengan demikian integrasi imunisasi Hepatitis B ke dalam imunisasi dasar pada kelompok bayi dan anak-anak merupakan langkah yang sangat diperlukan.

3. Tujuan Pelaksanaan Imunisasi
Tujuan pemberian imunisasi adalah untuk mencegah terjadinya infeksi penyakit yang dapat menyerang anak-anak. Hal ini dapat dicegah dengan pemberian imuniasi sedini mungkin kepada bayi dan anak-anak.
Menurut Depkes RI (2001), tujuan pemberian imunisasi adalah untuk mencegah penyakit dan kematian bayi dan anak-anak yang disebabkan oleh wabah yang sering muncul. Pemerintah Indonesia sangat mendorong pelaksanaan program imunisasi sebagai cara untuk menurunkan angka kesakitan, kematian pada bayi, balita/ anak-anak pra sekolah.
Untuk tercapainya program tersebut perlu adanya pemantauan yang dilakukan oleh semua petugas baik pimpinan program, supervisor dan petugas imunisasi vaksinasi. Tujuan pemantauan adalah untuk mengetahui sampai dimana keberhasilan kerja, mengetahui permasahan yang ada. Hal ini perlu dilakukan untuk memperbaiki program.
Hal-hal yang perlu dilakukan pemantauan (dimonitor) adalah sebagai berikut :
Pemantauan ringan adalah memantau hal-hal sebagai berikut apakah pelaksanaan pemantauan sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan, apakah vaksin ckup tersedia, pengecekan lemari es normal, hasil imunisasi dibandingkan dengan sasaran yang telah ditetapkan, peralatan yang cukup untuk penyuntikan yang aman dan sterl, apakah diantara 6 penyakit yang dapat discegah dengan imunisasi dijumpai dalam seminggu.
Cara memantau cakupan imunisasi dapat dilakukan melalui cakupan dari bulan ke bulan dibandingkan dengan garis target, dapat digambarkan masing-masing desa. Untuk mengetahui keberhasilan program dapat dengan melihat seperti, bila garis pencapaian dalam 1 tahun terlihat antara 75-100% dari target, berarti program sangat berhasil. Bila garis pencapaian dalam 1 tahun terlihat antara 50-75% dari target, berarti prgram cukup berhasil dan bila garis pencapaian dalam 1 tahun dibawah 50% dari target berabrti program belum berhasil. Bila garis pencapaian dalam 1 tahun terlihat dibawah 25% dari target berarti program sama sekali tidak berhasil. Untuk tingkat kabupaten dan provinsi, maka penilaian diarahkan pada penduduk tiap kecamatan dan kabupaten. Disamping itu, pada kedua tingkat ini perlu mempertimbangkan pula memonotoring evaluasi pemakaian vaksin. (Notoatmodjo, 2003)
4. Jadwal Pemberian Imunisasi
-. Vaksinasi BCG
Vaksinasi BCG diberikan pada bayi umur 0-12 bulan secara suntikan intrakutan dengan dosis 0,05 ml. Vaksinasi BCG dinyatakan berhasil apabila terjadi tuberkulin konversi pada tempat suntikan. Ada tidaknya tuberkulin konversi tergantung pada potensi vaksin dan dosis yang tepat serta cara penyuntikan yang benar. Kelebihan dosis dan suntikan yang terlalu dalam akan menyebabkan terjadinya abses ditempat suntikan. Untuk menjaga potensinya, vaksin BCG harus disimpan pada suhu 20 derajat Celcius

- Vaksinasi DPT
Kekebalan terhadap penyakit difteri, pertusis dan tetanus adalah dengan pemberian vaksin yang terdiri dari toksoid difteri dan toksoid tetanus yang telah dimurnikan ditambah dengan bakteri bortella pertusis yang telah dimatikan. Dosis penyuntikan 0,5 ml diberikan secara subkutan atau intramuscular pada bayi yang berumur 2-12 bulan sebanyak 3 kali dengan interval 4 minggu. Reaksi spesifik yang timbul setelah penyuntikan tidak ada. Gejala biasanya demam ringan dan reaksi lokal tempat penyuntikan. Bila ada reaksi yang berlebihan seperti suhu yang terlalu tinggi, kejang, kesadaran menurun, menangis yang berkepanjangan lebih dari 3 jam, hendaknya pemberian vaksin DPT diganti dengan DT.
– Vaksinasi Polio
Untuk kekebalan terhadap polio diberikan 2 tetes vaksin polio oral yang mengandung viruis polio yang mengandung virus polio tipe 1, 2 dan 3 dari Sabin. Vaksin yang diberikan melalui mulut pada bayi umur 2-12 bulan sebanyak 4 kali dengan jarak waktu pemberian 4 minggu.
– Vaksinasi Campak
Vaksin yang diberikan berisi virus campak yang sudah dilemahkan dan dalam bentuk bubuk kering atau freezeried yang harus dilarutkan dengan bahan pelarut yang telah tersedia sebelum digunakan. Suntikan ini diberikan secara subkutan dengan dosis 0,5 ml pada anak umur 9-12 bulan. Di negara berkembang imunisasi campak dianjurkan diberikan lebih awal dengan maksud memberikan kekebalan sedini mungkin, sebelum terkena infeksi virus campak secara alami. Pemberian imunisasi lebih awal rupanya terbentur oleh adanya zat anti kebal bawaan yang berasal dari ibu (maternal antibodi), ternyata dapat menghambat terbentuknya zat kebal campak dalam tubuh anak, sehingga imunisasi ulangan masih diberikan 4-6 bulan kemudian. Maka untuk Indonesia vaksin campak diberikan mulai abak berumur 9 bulan.
5.Imunisasi TT pada ibu hamil
Imunisasi Tetanus Toksoid adalah proses untuk membangun kekebalan sebagai upaya pencegahan terhadap infeksi tetanus .
Vaksin Tetanus yaitu toksin kuman tetanus yang telah dilemahkan dan kemudian dimurnikan .
Ibu hamil adalah ibu yang mengandung mulai trimester I s/d trismester III
o/.Manfaat imunisasi TT ibu hamil
a. Melindungi bayinya yang baru lahir dari tetanus neonatorum . Tetanus neonatorum adalah penyakit tetanus yang terjadi pada neonatus (bayi berusia kurang 1 bulan) yang disebabkan oleh clostridium tetani, yaitu kuman yang mengeluarkan toksin (racun) dan menyerang sistim saraf pusat

b. Melindungi ibu terhadap kemungkinan tetanus apabila terluka
Kedua manfaat tersebut adalah cara untuk mencapai salah satu tujuan dari program imunisasi secara nasional yaitu eliminasi tetanus maternal dan tetanus neonatorum .
Jumlah dan dosis pemberian imunisasi TT untuk ibu hamil
Imunisasi TT untuk ibu hamil diberikan 2 kali dengan dosis 0,5 cc di injeksikan intramuskuler/subkutan dalam . Umur kehamilan mendapat imunisasi TT
Imunisasi TT sebaiknya diberikan sebelum kehamilan 8 bulan untuk mendapatkan imunisasi TT lengkap . TT1 dapat diberikan sejak di ketahui postif hamil dimana biasanya di berikan pada kunjungan pertama ibu hamil ke sarana kesehatan
.Jarak pemberian imunisasi TT1 dan TT2
Jarak pemberian (interval) imunisasi TT1 dengan TT2 adalah minimal 4 minggu

6.Efek samping imunisasi TT
Biasanya hanya gejala-gejala ringan saja seperti nyeri, kemerahan dan pembengkakan pada tempat suntikan . TT adalah antigen yang sangat aman dan juga aman untuk wanita hamil. Tidak ada bahaya bagi janin apabila ibu hamil mendapatkan imunisasi TT
Efek samping tersebut berlangsung 1-2 hari, ini akan sembuh sendiri dan tidak perlukan tindakan/pengobatan

7.Tempat pelayanan untuk mendapatkan imunisasi TT
a. Puskesmas
b. Puskesmas pembantu
c. Rumah sakit
d. Rumah bersalin
e. Polindes
f. Posyandu
g. Rumah sakit swasta
h. Dokter praktik, dan
i. Bidan praktik
Tempat-tempat pelayanan milik pemerintah imunisasi diberikan dengan gratis.

condiloma acuminata

Published April 19, 2012 by liafathir

Nature virus of the genital warts,veneral warts,verucca vulgaris,cock’s comb,first recognized in 1907 by ciuffo.Human Papilloma Virus (HPV) was identified as the causes of candiloma acuminata.
Condiloma is located warts in the genital area and is a sexually transmitted disease and a bad influence for both partners. The incubation period can occur up to several months without any signs and symptoms of the disease. Usually more during pregnancy and when there is excessive discharge from the vagina. Although a bit, set to grow cauliflower and as a result is the accumulation of material – the parts of the purulent material – parts, usually malodorous gray color – gray, pale yellow or pink.
Condiloma acuminata a bulge – cauliflower-shaped bumps or warts that grow on small tapered to form a group. continue growing sexually transmitted. Condiloma acuminata found in various parts of the penis or usually obtained through sexual contact through the rectal canal around the anus, in women encountered on the mucosal surface of the vulva, cervix, perineum or around the anus.
Condiloma often seems fragile or easily distracted, can spread multisentris multifocal and varied both in number and size. Lesions can be very widespread that it can control the appearance of normal and genital anatomy. The most common body region is the frenulum, corona, glans in the male and the posterior introitus in women.
Transmission of sexually transmitted diseases generally is through sexual contact, while the other way is through a blood transfusion, injecting pregnant mothers to their fetuses, and others.
In the United States is likely to increase 4-5 times in the past two decades, the highest incidence in women aged 20-30 years. 500000-1000000 Each year there are new cases were found in the United States. Other reports have noted that the prevalence of the disease is four times higher in the last two decades. Reports of sexually transmitted disease clinic (STD) in England, that the number of new cases has doubled in the last decade. In Hong Kong the country is ranked second disease PMS, and the recent increased incidence of this disease continues. Hospital data in Indonesia suggest that the disease is ranked third among sexually transmitting diseases, gonorrhea and urethritis after non gonorrhea.

Condyloma accuminatum [condyloma akuminata] also known as:
A. Genital warts
2. Genital warts
3. Genital warts (genital warts)
4. Genital warts
5. Verruca akuminata
6. Venereal wart
7. Cock’s comb

Definition
Condyloma akuminata are:
A. Genital tumors found in men and women and is soft like a chicken’s comb.
2. Growth of benign tissue, superficial, especially in the genital area (genital)
3. Sexually Transmitted Diseases caused by infection with human papilloma virus (VPH) types 6 and 11. Its early growth – small at first, then tend to cluster and coalesce to form a large lump that resembles cauliflower [such as chicken or broccoli comb].

Causes
Virus DNA Papovavirus group, namely: Human Papilloma Virus (HPV). HPV types 6 and 11 cause lesions with growth (cock’s comb). HPV types 16, 18, and 31 cause lesions that are flat (flat). HPV types 16 and 18 are often associated with genital carcinoma (malignant cancers in the genital area). The incubation period lasts between 1-8 condyloma akuminata months (average 2-3 months). VPH (humanus papilloma virus) enters the body through the skin mikrolesi, so condyloma akuminata often arise in areas that are prone to trauma during intercourse. In men, a place that is often affected are the glans penis, the coronary sulcus, frenulum and shaft of the penis, while the female is posterior Fourchette, vestibule, etc..
Pathophysiology
Cells from the basal layer of epidermis invaded by HPV. It is penetrated through the skin and cause mucosal micro-abrasion. Virus latent phase starts with no signs or symptoms and can last up to months and years. Follow the latent phase, the production of viral DNA, the capsid and the particle starts. Into infected host cells and the resulting morphologically atypical koilocytosis of condyloma akuminata. Areas most often affected is the penis, vulva, vagina, cervix, perineum and perineal. Mucosal lesions are unusual in the oropharynx, larynx, and trachea have been reported. HPV-6 has even been reported in other unusual areas (extremities). Simultaneous multiple lesions and also frequently involves the state of anatomical differentiate subclinical as well. Subclinical infection has been upheld in bringing state of the infection and the potential to be oncogenic.
Condyloma akuminata divided into three forms:
A. Form akuminata
Mainly found in the folds and moist. Stemmed vegetation with surface looks like a finger berjonjot. Some warts can come together to form larger lesions that look like cauliflower. Large lesion that is often found in women who experienced fluoride albus and in pregnant women, or the state of impaired immunity.
2. The form of papules
Lesions form of papules usually found in areas with complete keratinization, such as the shaft of the penis, vulva, lateral part, perianal area and perineum. Abnormalities in the form of papules with a smooth and slippery surfaces, multiple discrete and dispersed.
3. Form of flat
Clinically, the lesion is seen as a form of macular or even totally invisible to the naked eye, and a new look after the acetic acid test. In this case the use of colposcopy is very helpful.
Clinical symptoms of
a. There is a papule or a tumor (lump), can be solitary (single) or multiple (many) with a similar surface verukous or chicken’s comb.
b. Sometimes patients complain of pain. If there is secondary infection will turn into a reddish-gray and smells.
c. Generally, in the moist folds of the external genitalia. In men, for example in: perineum and around the anus, the coronary sulcus, gland penis, the mouth of the external urethral, ​​prepusium, body and base of the penis. In women, for example in: vulva and surrounding area, vaginal introitus, labia majora, labia minora, sometimes on porsio uteri.
Enforcement of Diagnosis
Diagnosis based on clinical symptoms. Investigations can be done by:
A. Acetic acid test
Put a 5% acetic acid by a stick of cotton on a suspected lesion. In a few minutes of lesions will turn white (acetowhite). Discoloration of the lesions in the perianal area takes longer (about 15 minutes).
2. colposcopy
is a routine action in the midwifery. This examination is especially useful to see akuminata subclinical condyloma lesions, and sometimes performed in conjunction with acetic acid test.
3. Histopathology
At the eksofitik akuminata condyloma, examination by light microscopy will show an overview papilomatosis, acanthosis, elongated rete ridges and thickening, parakeratosis and vakuolisasi in the cytoplasm.
Diagnoses
A. Condylomata lata or condyloma latum (in syphilis).
2. Molluscum contagiosum.
3. Verruca vulgaris.
4. Squamous cell carcinoma
5. Rhabdomyolysis

Another issue to be considered
a. Bowen disease
b. Condyloma lata
c. Darier disease
d. Fibroepitheliomas
e. Hailey-Hailey disease
f. Neoplasia
g. Nevi
h. Pearly penile papules
i. Squamous cell carcinoma in situ
j. Vulvar neurofibromatosis
k. Vulvar vestibular papillae

Management
A. Leopard (spread slightly) with tinctura podophyllin 20-25% (this should not be given to pregnant women because fetal death can occur / fetus).
2. In pregnant women, spotted with triklorasetat acid (TCA) 80-90%. Or use a solution with a concentration of 50%, applied every week.
3. 5-fluorurasil ointment 1-5% given every day until the lesions disappear.
4. Electric Surgery (elektrokauterisasi).
5. Surgery frozen with liquid nitrogen.
6. Surgical scalpel.
7. Carbon dioxide laser.
8. Interferon (im or intralesional injection) or topical (cream).
a. Interferon alfa administered at a dose of 4-6 mU im 3 x week for 6 weeks or
with a dose of 1-5 mU i.m. for 6 weeks.
b. Interferon beta administered at a dose of 2×10 g unit im for 10 consecutive days.
9. In men who are not circumcised (circumcised) can be performed excision and circumcision (circumcision).

Prognosis
The disease can be cured completely, but sometimes – sometimes can recur after treatment because of re-infection or the onset of the disease remains latent. Given this virus also increases the risk of cervical cancer [cervical cancer], so if someone has tested positive for condyloma akuminata pap smear test should be performed as well. This test is also recommended for women at least every 1 year after sexually active.

Did you know ??
a. Mortality is secondary to malignant change in a carcinoma in men and women.
b. HPV infection appears to be more frequent and worse in patients with various types of immune deficiency. Recurrence rate, size, discomfort and risk of development of the oncologist is the highest among these patients. Secondary infections are not uncommon.
c. Latent pain became more active during pregnancy. Vulvar condyloma can be associated with parturitas akuminata. Trauma then may occur, producing crusting or erythema. Bleeding has been reported in large lesions that can arise during pregnancy.
c. In men, the bleeding has been reported in accordance flat penile urethral meatus, usually associated with HPV-16. Finally, acute urethral obstruction in women may also arise.
d. Both sexes can be susceptible to infection.
e. Additional illnesses may become more frequent in men (reported in 75% of patients).
f. The prevalence is greatest in people with ages between 17-33 years, with increased incidence in people aged 20-24 years.
g. Smoking, oral contraceptives, which many sexual partners, early coitus and age is a risk factor in getting akuminata condyloma.
h. Generally, two-thirds of

This slideshow requires JavaScript.

individuals who have sexual contact with a partner who has condyloma lesions akuminata will occur within 3 months.
j. The main complaint is usually one of the lumps are not painful, pruritic, or discharge ..

KONDILOMA AKUMINATA

Virus alami dari genital warts,veneral warts,verucca vulgaris,jengger ayam,kutil kelamin,pertama kali dikenal tahun 1907 oleh ciuffo.Dengan berkembangnya tekhnologi biologi mukuler Human papillomavirus (HVP)diidentifikasi sebagai penyebab condiloma akuminata.

Condilloma adalah kutil yang berlokasi di daerah genital dan merupakan penyakit menular seksual dan berpengaruh buruk bagi kedua pasangan. Masa inkubasi dapat terjadi sampai beberapa bulan tanpa tanda dan gejala penyakit. Biasanya lebih banyak selama masa kehamilan dan ketika terjadi pengeluaran cairan yang berlebihan dari vagina. Meskipun sedikit, kumpulan bunga kol bisa berkembang dan sebagai akibatnya adalah akumulasi bahan – bahan purulen pada belahan – belahan, biasanya berbau tidak sedap warnanya abu – abu, kuning pucat atau merah muda.

Kondiloma akuminata merupakan tonjolan – tonjolan yang berbentuk bunga kol atau kutil yang meruncing kecil yang bertumbuh kembang sampai membentuk kelompok. yang berkembang terus ditularkan secara seksual. Kondiloma akuminata dijumpai pada

berbagai bagian penis atau biasanya didapatkan melalui hubungan seksual melewati liang rectal disekitar anus, pada wanita dijumpai pada permukaan mukosa pada vulva, serviks, pada perineum atau sekitar anus.

Kondiloma sering kali tampak rapuh atau mudah terpecah, bisa tersebar multifocal dan multisentris yang bervariasi baik dalam jumlah maupun ukurannya. Lesinya bisa sangat meluas sehingga dapat menguasai penampakan normal dan anatomi pada genitalia. Daerah tubuh yang paling umum adalah frenulum, korona,glans pada pria dan daerah introitus posterior pada wanita.

Penularan penyakit menular seksual umumnya adalah melalui hubungan seksual, sedangkan cara lainnya yaitu melalui transfusi darah, jarum suntik, ibu hamil kepada bayi yang dikandungnya, dan lain-lain.

Di Amerika Serikat cenderung meningkat 4-5 kali lipat dalam dua dekade terakhir, insidensi tertinggi pada wanita usia 20-30 tahun. Setiap tahun ada 500.000-1.000.000 kasus baru yang ditemukan di Amerika Serikat. Laporan lain telah mencatat bahwa prevalensi penyakit ini empat kali lebih tinggi dalam dua dekade terakhir ini. Laporan dari klinik penyakit menular seksual (PMS) di Inggris, bahwa jumlah kasus baru meningkat dua kali lipat dalam dekade terakhir ini. Di negara Hongkong penyakit ini menduduki peringkat kedua PMS, dan akhir-akhir ini insidensi penyakit ini meningkat terus. Data rumah sakit di Indonesia menunjukkan bahwa penyakit ini menduduki peringkat ketiga diantara penyakit penular seksual, sesudah uretritis gonore dan non gonore.

 

 

Condyloma accuminatum [Kondiloma akuminata ] juga dikenal sebagai:

1. Kutil kelamin

2. Kutil kemaluan

3. Kutil genital (kutil genitalia)

4. Genital warts

5. Veruka akuminata

6. Venereal wart

7. Jengger ayam

 

 

 

BAB  II

PEMBAHASAN

Definisi

Kondiloma akuminata adalah:

1. Tumor pada genitalia yang ditemukan pada laki-laki maupun perempuan dan bersifat lunak seperti jengger ayam.

2. Pertumbuhan jaringan yang bersifat jinak, superfisial, terutama di daerah genitalia (kelamin)

3. Penyakit Menular Seksual disebabkan infeksi virus papiloma human (VPH) tipe 6 dan 11. Pertumbuhan nya mula – mula kecil, kemudian cenderung berkelompok dan menyatu membentuk suatu benjolan yang besar yang menyerupai bunga kol [seperti jengger ayam atau brokoli].

 

Penyebab

Virus DNA golongan Papovavirus, yaitu: Human Papilloma Virus (HPV). HPV tipe 6 dan 11 menimbulkan lesi dengan pertumbuhan (jengger ayam). HPV tipe 16, 18, dan 31 menimbulkan lesi yang datar (flat). HPV tipe 16 dan 18 seringkali berhubungan dengan karsinoma genitalia (kanker ganas pada kelamin). Masa inkubasi Kondiloma akuminata berlangsung antara 1-8 bulan (rata-rata 2-3 bulan). VPH (virus papiloma humanus) masuk ke dalam tubuh melalui mikrolesi pada kulit, sehingga kondiloma akuminata sering timbul di daerah yang mudah mengalami trauma pada saat hubungan seksual. Pada pria, tempat yang sering terkena adalah glans penis, sulkus koronarius, frenulum dan batang penis, sedang pada wanita adalah fourchette posterior, vestibulum, dll.

Patofisiologi

Sel dari lapisan basal epidermis diinvasi oleh HPV. Hal ini berpenetrasi melalui kulit dan menyebabkan mikro abrasi mukosa. Fase virus laten dimulai dengan tidak ada tanda atau gejala dan dapat berakhir hingga bulan dan tahun. Mengikut fase laten, produksi DNA virus, kapsid dan partikel dimulai. Sel Host menjadi terinfeksi dan timbul atipikal morfologis koilocytosis dari kondiloma akuminata. Area yang paling sering terkena adalah penis, vulva, vagina, serviks, perineum dan perineal. Lesi mukosa yang tidak biasa adalah di oropharynx, larynx, dan trachea telah dilaporkan. HPV-6 bahkan telah dilaporkan di area lain yang tidak biasa (ekstremitas). Lesi simultan multiple juga sering dan melibatkan keadaan subklinis sebagaimana anatomi yang berdifferensiasi dengan baik. Infeksi subklinis telah ditegakkan dalam membawa keadaan infeksi dan potensi akan onkogenik.

Kondiloma akuminata dibagi dalam 3 bentuk:

1. Bentuk akuminata

Terutama dijumpai pada daerah lipatan dan lembab. Terlihat vegetasi bertangkai dengan permukaan berjonjot seperti jari. Beberapa kutil dapat bersatu membentuk lesi yang lebih besar sehingga tampak seperti kembang kol. Lesi yang besar ini sering dijumpai pada wanita yang mengalami fluor albus dan pada wanita hamil, atau pada keadaan imunitas terganggu.

2. Bentuk papul

Lesi bentuk papul biasanya didapati di daerah dengan keratinisasi sempurna, seperti batang penis, vulva bagian lateral, daerah perianal dan perineum. Kelainan berupa papul dengan permukaan yang halus dan licin, multipel dan tersebar secara diskret.

3. Bentuk datar

Secara klinis, lesi bentuk ini terlihat sebagai makula atau bahkan sama sekali tidak tampak dengan mata telanjang, dan baru terlihat setelah dilakukan tes asam asetat. Dalam hal ini penggunaan kolposkopi sangat menolong.

Gejala Klinis

a. Terdapat papul atau tumor (benjolan), dapat soliter (tunggal) atau multipel (banyak) dengan permukaan yang verukous atau mirip jengger ayam.

b. Terkadang penderita mengeluh nyeri. Jika timbul infeksi sekunder berwarna kemerahan akan berubah menjadi keabu-abuan dan berbau tidak sedap.

c. Umumnya di daerah lipatan yang lembab pada genitalia eksterna. Pada pria, misalnya di: perineum dan sekitar anus, sulkus koronarius, gland penis, muara uretra eksterna, prepusium, korpus dan pangkal penis. Pada wanita, misalnya di: vulva dan sekitarnya, introitus vagina, labia mayor, labia minor, terkadang pada porsio uteri.

Penegakan Diagnosis

Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala klinis. Dapat dilakukan pemeriksaan penunjang dengan:

1. Tes asam asetat

Bubuhkan asam asetat 5% dengan lidi kapas pada lesi yang dicurigai. Dalam beberapa menit lesi akan berubah warna menjadi putih (acetowhite). Perubahan warna pada lesi di daerah perianal perlu waktu lebih lama (sekitar 15 menit).

2. kolposkopi

merupakan tindakan yang rutin dilakukan di bagian kebidanan. Pemeriksaan ini terutama berguna untuk melihat lesi kondiloma akuminata subklinis, dan kadang-kadang dilakukan bersama dengan tes asam asetat.

3. Histopatologi

Pada kondiloma akuminata yang eksofitik, pemeriksaan dengan mikroskop cahaya akan memperlihatkan gambaran papilomatosis, akantosis, rete ridges yang memanjang dan menebal, parakeratosis dan vakuolisasi pada sitoplasma.

Diagnosis Banding

1. Kondiloma lata atau kondiloma latum (pada sifilis).

2. Moluskum kontagiosum.

3. Veruka vulgaris.

4. Karsinoma sel skuamos

5. Rhabdomyolysis

 

Masalah lain yang dipertimbangkan

a. Bowen disease

b. Condyloma lata

c. Darier disease

d. Fibroepitheliomas

e. Hailey-Hailey disease

f. Neoplasia

g. Nevi

h. Pearly penile papules

i. Squamous cell carcinoma in situ

j. Vulvar neurofibromatosis

k. Vulvar vestibular papillae

 

Penatalaksanaan

1. Tutul (olesi sedikit) dengan tinctura podofilin 20-25% (ini tidak boleh diberikan pada wanita hamil, karena dapat terjadi kematian fetus/janin).

2. Pada wanita hamil, tutul dengan asam triklorasetat (TCA) 80-90%. Atau digunakan larutan dengan konsentrasi 50%, dioleskan setiap minggu.

3. Salep 5-fluorurasil 1-5% diberikan setiap hari sampai lesi hilang.

4. Bedah listrik (elektrokauterisasi).

5. Bedah beku dengan nitrogen cair.

6. Bedah skalpel.

7. Laser karbondioksida.

8. Interferon (suntikan i.m. atau intralesi) atau topikal (krim).

a. Interferon alfa diberikan dengan dosis 4-6 mU i.m. 3 x seminggu selama 6 minggu atau

 dengan dosis 1-5 mU i.m. selama 6 minggu.

b. Interferon beta diberikan dengan dosis 2×10 g unit i.m. selama 10 hari berturut-turut.

9. Pada pria yang tidak dikhitan (disunat) dapat dilakukan eksisi dan sirkumsisi (khitan).

 

Prognosis

Penyakit ini dapat disembuhkan total, namun kadang – kadang dapat kambuh setelah pengobatan karena adanya infeksi ulang atau timbulnya penyakit yang masih laten. Mengingat virus ini juga meningkatkan resiko terjadinya penyakit kanker serviks [kanker mulut rahim], maka jika memang seseorang sudah positif terkena kondiloma akuminata sebaiknya dilakukan test pap smear juga. Test ini juga dianjurkan bagi wanita paling tidak setiap 1 tahun setelah aktif secara seksual.

 

Tahukah Anda

a. Mortalitas merupakan hal sekunder terhadap perubahan maligna menjadi karsinoma pada pria dan wanita.

b. Infeksi HPV tampak untuk menjadi lebih sering dan memburuk pada pasien dengan variasi tipe defisiensi imun. Angka rekurensi, ukuran, ketidaknyamanan dan risiko dari perkembangan onkologis merupakan yang tertinggi di antara pasien ini. Infeksi sekunder adalah hal yang tidak biasa.

c. Kesakitan laten menjadi lebih aktif selama kehamilan. Vulva kondiloma akuminata dapat berkaitan dengan parturitas. Trauma kemudian dapat muncul, menghasilkan krusta atau eritema. Perdarahan telah dilaporkan pada lesi yang besar yang dapat timbul selama kehamilan.

c. Pada pria, perdarahan telah dilaporkan sesuai datarnya meatus uretra penis, biasanya dikaitkan dengan HPV-16. Akhirnya, obstruksi uretra akut pada wanita juga dapat timbul.

d. Kedua jenis kelamin dapat rentan terhadap infeksi.

e. Penyakit tambahan dapat menjadi lebih sering pada pria (dilaporkan pada 75% pasien).

f. Prevalensi adalah yang terbesar pada orang dengan usia antara 17-33 tahun, dengan insidensi meningkat pada orang yang berusia 20-24 tahun.

g. Merokok, kontrasepsi oral, pasangan seksual yang banyak, dan usia koitus awal merupakan factor resiko dalam mendapatkan kondiloma akuminata.

h. Umumnya, dua pertiga individu yang mempunyai kontak seksual dengan seorang partner yang mempunyai kondiloma akuminata akan timbul lesi dalam waktu 3 bulan.

j. Keluahan utama biasanya salah satu dari benjolan yang tidak nyeri, pruritus, atau keluar cairan

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.